being Lintang

Rumus Politik, Jangan Pernah Selesaikan Pekerjaan!!

leave a comment »

“Gitu aja kok ga selesai-selesai,” begitu kata Heza ketika untuk ketiga kalinya dalam sebulan lewat jembatan setengah tertutup karung karena aspal campur semen yang belum kering-kering. Motor dan mobil dari arah berbeda harus bergantian lewat dengan instruksi beberapa orang, entah siapa, yang selalu membawa keranjang minta sumbangan, juga entah untuk apa.

Saya juga heran, kenapa perbaikan jembatan sekuprit dekat Cimanggis, yang panjangnya ga ada tiga meter itu, sampai tiga bulan belum selesai? Kenapa pula harus ada sekelompok orang yang setengah maksa minta uang pada setiap mobil yang mau nyebrang?

Mereka memang punya posisi politis yang kuat untuk minta sumbangan pada siapapun yang lewat. Bahwa jembatan adalah fasilitas publik dan adalah tanggung jawab setiap pengguna untuk memelihara dan memperbaikinya. Dengan demikian, mobil dan motor punya obligasi moral untuk ambil bagian dalam ritual perawatan.

Read the rest of this entry »

Written by Gusti Mas Lintang

August 29, 2011 at 6:47 pm

Posted in Filosofi

Tagged with , , ,

Apologi Kegagalan

with 2 comments

Menjadi ‘manusia yang wartawan’ ternyata tidak semudah yang saya duga. Manusia jenis ini bukan hanya dituntut bisa nulis tapi juga harus pandai menahan diri, saya hanya boleh mendengar kata orang tanpa bisa berpendapat. Bukankah saya menulis untuk bicara dalam perspektif ke-Lintang-an?

Lebih dari itu, orang yang harus saya dengar bukan hanya satu melainkan beberapa. Katanya sih untuk menampilkan tafsir berbeda atas suatu peristiwa sehingga tulisan yang disajikan jadi berimbang, dalam bahasa kerennya ‘cover both sides’.

Kaidah inilah yang membuat saya tidak bisa tidur sampai jam setengah dua. Dalam liputan duet saya dengan Bayu di masjid Lautze, saya yang ditugasi membuat teks feature gagal mengurai persoalan dari minimal dua sudut pandang. Sedangkan sang partner yang bertanggung jawab untuk editing video berhasil melaksanakan tugas.

Setelah momen perenungan yang cukup panjang, saya memutuskan untuk menyalahkan dua pihak. Yang pertama adalah kondisi internal kedirian saya yang hari ini entah kenapa sedang lemot, dan yang kedua adalah keadaan.

Kondisi internal

Menurut buku rencana, saya dan Bayu akan menulis feature masjid Lautze sebagai laboratorium asimilasi kebudayaan China dan Islam. Alasannya canggih tapi muluk-muluk, melihat tren purifikasi Islam yang selalu melihat kebudayaan lokal sebagai bid’ah. Menurut tren ini, Islam itu sebangun dengan Arab sehingga semuanya harus serba Timur Tengah.

Read the rest of this entry »

Written by Gusti Mas Lintang

August 11, 2011 at 8:36 pm

Pengandaian Setan

leave a comment »

Hari ini saya diingatkan dengan ketus oleh Heza, katanya, “Ga usah suka berandai-andai. Mau, deket sama setan? ”.  Sebabnya sederhana dan agak tidak nyambung. Heza kehilangan tas bagus dengan harga murah gara-gara saya bersikeras mengajak dia keliling mall dulu, lihat-lihat di tempat lain karena siapa tahu ada yang lebih bagus. Eh, setelah  balik lagi, tas itu sudah diambil orang.

Nah, ketika saya dengan menyesal bilang, “Coba tadi langsung kita bayar”, jawaban yang keluar ya kalimat itu tadi, jaka sembung naik ojek alias ga nyambung jek. Bagaimana mungkin persoalan tas dikaitkan dengan ‘perandaian’ apalagi ‘setan’.

Hampir saja saya marah karena memang nadanya tidak enak. Dan bukankah saya—meskipun tidak langsung—sudah minta maaf? Ngapain pula dia bawa-bawa nama musuh Tuhan untuk soal sepele kayak gini? Ga bisa apa memberi jawaban yang agak menenangkan seperti, “ya udah, ntar kita cari lagi kapan-kapan”?

Tapi karena sadar posisi tidak menguntungkan, saya tersangka utama gagalnya pembelian tas, akhirnya saya memilih diam sambil berpikir bertanya apa maksudnya.  Heza adalah jenis manusia yang terbiasa berpikir dengan urutan angka sehingga lompatan logika dari ‘tas’ ke ‘setan’ adalah bukan gaya  Heza.

Read the rest of this entry »

Written by Gusti Mas Lintang

August 2, 2011 at 8:33 am

Afraid to Love or (to be Loved?!)

leave a comment »

Love is an activity, not a passive affect; it is a “standing in”, not a “falling for”. In the most general way, the active character of love can be described by stating that love is primarily giving, not receiving. (Erich Fromm: the Art of Loving)

Perhaps the reason we are unable to love is that we yearn to be loved, that is, we demand something (love) from our partner instead of delivering ourselves up to him demand-free and asking for nothing but his company (Milan Kundera: the Unbearable Lightness of Being)

Love means giving something you don’t have to someone who doesn’t want it (Jaques Lacan: Ecrits, Selection)

Hampir semua orang mengatakan bahwa keistimewaan cinta terletak pada aktivitas memberi, cinta adalah sebuah kemampuan produktif, penyediaan totalitas diri untuk objek yang dicintai. Cinta menjadi sakral karena cinta bukan merupakan proses jual beli di mana pemberian harus diimbangi dengan pengembalian. Cinta tidak mempersoalkan soal akan mendapat apa setelah memberi karena bahagianya cinta tidak terletak pada momen menerima melainkan pada momen memberikan. Memberi, yang kata Erich Fromm, bukan merupakan pengorbanan melainkan joy activity—susah menerjemahkan kata joy ke dalam bahasa Indonesia yang tepat.

Tapi ada yang terlupakan dalam pikiran cinta yang seperti ini. Cinta juga menuntut kemampuan untuk menerima. Jika memberi merupakan momen kebahagiaan dalam cinta maka, menerima adalah momen pengorbanannya. Dan sisi inilah yang membuat cinta menjadi konsep yang sangat ambigu. Di satu sisi cinta merupakan penegasan diri sedangkan di sisi lain cinta juga merupakan peleburan diri. Dia berjarak sekaligus tak berjarak.

Read the rest of this entry »

Written by Gusti Mas Lintang

August 2, 2011 at 8:27 am

Kebebasan itu Menakutkan

leave a comment »

“Terserah kamu”… Kalau ada relawan baik hati (plus sedikit gila) yang mau mencatat semua kata yang keluar dari mulut saya, menghitungnya satu-satu, dan membuat kontes kata-kata, sepertinya kombinasi kata antara “terserah” dan “kamu” akan muncul sebagai pemenang. Bukan hanya karena paling sering, tapi juga intonasi yang keluar ketika kombinasi itu muncul selalu penuh penghayatan. Istimewa. Dalam ingatan pendek saya, lidah saya secara otomatis akan membentuk formasi tertentu yang kemudian terkonversi menjadi suara “terserah kamu” ketika seorang teman menanyakan mau makan di mana, mau nongkrong di kedai kopi apa, dan semua jenis pertanyaan lain yang melibatkan pilihan.

Dulu, saya sempat berpikir kalau kalimat “terserah kamu” menjadi semacam idol bagi lidah saya karena saya memang baik hati. Alasan yang paing tepat untuk memuji diri adalah kemenangan telak kombinasi kata “terserah” dan “kamu” dari semua kombinasi lain yang mungkin. Kalimat itu menunjuk pada kepribadian yang memberi kebebasan pada orang untuk memilih apa yang dia suka. Dengan demikian saya bukan manusia egois yang suka memaksa. Saya ingat betul kebiasaan saya ketika kebetulan menjadi penguasa di rumah—harap dicatat, di keluarga saya, seorang anggota ditahbiskan sebagai raja ketika dia menjadi pemegang tunggal remote control pesawat televisi. Di situ, saya cenderung menyerahkan kekuasaan itu pada ibu saya yang punya selera tontonan paling moderat di antara semua anggota lain.

Read the rest of this entry »

Written by Gusti Mas Lintang

August 2, 2011 at 8:22 am

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.